SILOGISME
Disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah
“Bahasa Indonesia”
Dosen
pengampu: Dr. Iwan Marwan, M.Hum
![]() |
| Add caption |
Disusun
oleh:
SITI RIADOTUL NISFUL L. (932502315)
RIZKA A’YUNA FUADIYAH (932507915)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KEDIRI
2016

BAB I
PEMBAHASAN
A.
Logika
Perkataan logika diturunkan dari kata sifat “logike”
(bahasa Yunani), yang berhubungan dengan kata benda “logos” yang artinya
pikiran atau kata sebagai pernyataan dari pikiran itu.Adapun berpikir merupakan
suatu kegitan jiwa untuk mencapai pengetahuan.Hal ini menunjukkan kepada kita
adanya hubungan yang erat antara pikiran dan kata yang merupakan pernyataannya
dalam bahasa.Jadi menurut etimologinya, logika adalah ilmu yang mempelajari
pikiran yang dinyatakan dalam bahasa[2].
B.
Penalaran
Di dalam karangan paparan dan persuasi peranan
logika sangat penting. Logika artinya bernalar, penalaran (reasoning)
ialah proses pengambilan kesimpulan (conclusion, inference) dari bahan
bukti atau petunjuk, ataupun yang dianggap bahan bukti atau petunjuk. Dengan
demikian, penalaran adalah proses penafsiran fakta sebagai dasar untuk menarik
suatu kesimpulan.
Data yang dapat digunakan dalam penalaran
untuk mencapai satu simpulan harus berbentuk kalimat pernyataan. Kalimat
pernyataan yang dapat dipergunakan sebagai data disebut proposisi. Kata atau
kelompok kata yang dapat dijadikan subjek atau predikat dalam sebuah kalimat
proposisi disebut term. Penalaran dibagi menjadi dua, yaitu:
1.
Penalaran
Deduktif
Penalaran deduktif
adalah penalaran dari suatu fakta yang umum ke fakta
yang spesifik. Penalaran deduktif dapat dilakukan secara langsung dan
tidak langsung. Penarikan secara langsung ditarik dari satu premis. Penalaran
deduksi yang berupa penarikan simpulan secara tidak langsung disebut silogisme.
Dengan demikian, sebuah silogisme selalu tersusun atas tiga buah proposisi, dua
berkedudukan sebagai premis-premis, dan satu berkedudukan sebagai kesimpulan[3].
Silogisme secara umum terbagi dua, yaitu:
a. Silogisme Kategoris
Silogisme kategoris adalah argumen dirangkai
dari 3 proposisi, di mana proposisi pertama disebut premis mayor, yang kedua
premis minor, dan terakhir disebut kesimpulan[4].
Aturan umum silogisme kategorial adalah sebagai berikut:
1.
Terdiri atas
tiga term, yaitu term mayor, term minor, dan term penengah.
2.
Terdiri atas
tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor, dan simpulan.
3.
Dua premis
yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
4.
Dari premis
yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
5.
Dari dua
premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
6.
Bila salah
satu premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
7.
Dari premis
mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik kesimpulan.
b.
Silogisme
Hipotesis
Silogisme hipotesis adalah silogisme yang
premis mayornya berupa keputusan hipotesis dan premis minornya merupakan
pernyataan kategoris.
c.
Silogisme
Alternatif
Silogisme yang terdiri atas premis mayor
berupa proposisi alternatif. Kalau premis minornya membenarkan salah satu
alternatif, simpulannya akan menolak alternatif yang lain. [5]
2.
Penalaran
induktif
Penalaran yang
bertolak dari pernyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang
umum. Beberapa bentuk penalaran induktif adalah sebagai berikut:
a.
Generalisasi
Generalisasi ialah proses penalaran yang mengandalkan beberapa
pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang
bersifat umum.
b.
Analogi
Analogi cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai
sifat yang sama.
c.
Hubungan
Kausal
Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala
yang saling berhubungan.[6]
C.
Argumen
Argumen
merupakan sekelompok pernyataan yang di dalamnya terdapat satu pernyataan yang
dinamakan kesimpulan yang diterima sebagai kesimpulan berdasarkan
pernyataan-pernyataan lainnya dari kelompok pernyataan itu yang dinamakan
premis atau premis-premis.
Dalam
kehidupan sehari-hari, perkataan “argumen”sering digunakan dalam arti premis
atau alasan. Orang yang terlibat dalam perdebatan, misalnya dalam suau diskusi
atau rapat, pembicara mengajukan pendapat atau pandanga yang dilengkapi dengan
alasan-alasan atau pertimbangan-pertimbangan untuk mendukung atau meyakinkan
kebenaran dari pendapatnya, dan pendapat juga alasan-alasannya itu akan
diungkapkan dalam pernyatan-pernyataan. Alasan itulah yang merupakan
bukti-bukti dari kebenaran-kebenaran atau pendapatnya.Pembicaraan yang
menampakkan adanya aliran pikiran tertentu ntuk sampai pada pendapat yang
diajukan, itulah yang disebut dengan “pembicaraan argumentatif”.[7]
BAB II
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan pada tugas ini maka dapat disimpulkan bahwa
Logika sangat berperan penting dalam berbagai bidang keilmuan, seperti:
pengambilan kesimpulan dalam statistik dan penarikan kesimpulan dalam suatu
wacana. Begitu juga dalam kehidupan manusia sehari-hari. Logika sangat
berkaitan dengan penalaran. Argumen juga tak kalah penting dengan logika,
karena ia mampu berperan sebagai proses pencapaian kesimpulan, karena kesimpulan
dari sekelompok pernyataan pada argumen, menghasilkan premis. Sedangkan premis
sangat berperan dalam silogisme sebagai jalan menentukan kesimpulan. Dasar
penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif. Yang mana
penalaran deduktif disebut juga dengan silogisme. Sedangkan penalaran induktif
yaitu kebalikan dari penalaran deduktif.
B.
Saran
Kita sebagai manusia harus menyadari dan selalu memanfaatkan
kinerja otak yang digunakan untuk berfikir mendalam hingga menghasilkan gagasan-gagasan baru yang mampu mengubah
sekitar kita.
Lampiran
ANALISIS TEKS

Keterangan:
a.
Logika
Semakin anda sering mempraktekkan
‘senyum’ baik kepada pasangan, kawan, kolega, anak atau siapa saja niscaya ia
akan menjadi kebiasaan.
Kata sering yang diikuti kata kebiasaan
akan memunculkan korelasi antar keduanya. Karena, ketika sesuatu sering
dilakukan akan menjadi kebiasaan atau kebiasaan muncul karena sesuatu tersebut
sering dilakukan.
b.
Argumen
Menurut Abbas as-Sisi:” Senyum adalah
sebuah ungkapan rasa gembira, hasil sebuah reaksi tulus yang ada didalam jiwa,
menggerakkan hati lalu memancarkan sinar pada wajah laksana pancaran sinar
petir”.
Contoh argumen di atas merupakan sekelompok
pernyataan yang mengandung kesimpulan bahwa senyum merupakan ungkapan rasa
gembira.
c.
Penalaran
1.
Deduktif
a.
Secara
langsung
Tidak semua agama menjadikan
aktivitas senyum sebagai ibadah
Jadi, yang menjadikan aktivitas
senyum sebagai ibadah adalah sebagian agama.
Contoh diatas menunjukkan penalaran deduktif
secara langsung, karena terdapat satu premis, dan satu kesimpulan.
b.
Tidak langsung
(Silogisme)
1)
Silogisme
Kategoris
a)
Islam
menjadikan aktivitas tersenyum sebagai suatu ibadah
Semua rakyat Indonesia Islam
Jadi, semua rakyat Indonesia
tersenyum akan dinilai suatu ibadah
b)
Senyum yaitu
menggerakkan bibir diiringi tatapan mata berbinar
Fatimah sedang menggerakkan bibir
diiringi tatapan mata berbinar
Jadi, Fatimah sedang Senyum
c)
Tersenyum
adalah mencoba melepaskan diri dari perasaan sedih dan negatif
Rizka tersenyum
Rizka mencoba melepaskan diri dari
perasaan sedih dan negatif
d)
Senyum ialah
pancaran sebuah keimanan yang kokoh
Aisyah sedang senyum
Aisyah merupakan orang yang kokoh
imannya.
Dari beberapa
contoh diatas, menunjukkan penalaran tidak langsung atau yang disebut juga
dengan silogisme yang bentuknya kategoris. Pada bab pembahasan diatas, sudah
disebutkan aturan dasar silogisme kategoris. Dari keempat contoh diatas, termasuk
contoh dari silogisme kategoris.
2)
Silogisme
Hipotesis
Jika hati penuh ambisi dan amarah
negatif, maka senyumnya tidak menjadi terkesan baik
Ahmad sedang marah
Jadi, Ahmad
senyumnya tidak menjadi terkesan baik.
Ciri-ciri
Silogisme yaitu ada kata yang dapat mempersatukan proposisi, yaitu kata jika..........,maka..........,
...atau...., ......tidak mungkin sekaligus....... dan.......
Baris yang pertama menunjukkan
perangkat yang mempersatukan dua proposisi, yaitu kata jika........maka.......
3)
Silogisme
Alternatif
Senyum itu ungkapan rasa gembira
atau sedih
Senyum itu ungkapan rasa gembira
Jadi, senyum ungkapan rasa tidak
sedih
Contoh di atas menunjukkan premis minornya
membenarkan salah satu alternatif yaitu rasa gembira, maka kesimpulannya
akan menolak alternatif yang lain yaitu rasa tidak sedih.
2.
Induktif
a.
Generalisasi
Jika hati penuh ambisi, maka
senyumnya tidak terkesan baik
Jika hati penuh amarah negatif,
maka senyumnya tidak terkesan baik
Jika hati penuh kebosanan, maka
senyumnya tidak terkesan baik
Jadi, jika hati sedang tidak baik,
maka senyumnya tidak terkesan baik
Dari contoh di atas ada kata ambisi,
amarah, dan bosan itu semua menunjukkan suasana hati yang tidak baik, jika
ia senyum maka senyumnya tidak terkesan baik dan seperti terpaksa.
b.
Hubungan
Kausal
Jika senyum, maka menggerakkan
bibir.
Ketika kita senyum pasti bibir kita bergerak,
dua kata itu menunjukkan saling berhubungan.
[1] B. Arief Sidharta, Pengantar
Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah, (Bandung: PT Refika
Aditama, 2008).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar