Selasa, 13 Desember 2016

silogisme

SILOGISME
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Bahasa Indonesia
Dosen pengampu: Dr. Iwan Marwan, M.Hum

Logo Stain Kediri Warna
Add caption

Disusun oleh:

SITI RIADOTUL NISFUL L.      (932502315)
RIZKA A’YUNA FUADIYAH    (932507915)


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KEDIRI
2016


PETA KONSEP[1]











BAB I
PEMBAHASAN

A.    Logika
Perkataan logika diturunkan dari kata sifat “logike” (bahasa Yunani), yang berhubungan dengan kata benda “logos” yang artinya pikiran atau kata sebagai pernyataan dari pikiran itu.Adapun berpikir merupakan suatu kegitan jiwa untuk mencapai pengetahuan.Hal ini menunjukkan kepada kita adanya hubungan yang erat antara pikiran dan kata yang merupakan pernyataannya dalam bahasa.Jadi menurut etimologinya, logika adalah ilmu yang mempelajari pikiran yang dinyatakan dalam bahasa[2].

B.     Penalaran
Di dalam karangan paparan dan persuasi peranan logika sangat penting. Logika artinya bernalar, penalaran (reasoning) ialah proses pengambilan kesimpulan (conclusion, inference) dari bahan bukti atau petunjuk, ataupun yang dianggap bahan bukti atau petunjuk. Dengan demikian, penalaran adalah proses penafsiran fakta sebagai dasar untuk menarik suatu kesimpulan.
Data yang dapat digunakan dalam penalaran untuk mencapai satu simpulan harus berbentuk kalimat pernyataan. Kalimat pernyataan yang dapat dipergunakan sebagai data disebut proposisi. Kata atau kelompok kata yang dapat dijadikan subjek atau predikat dalam sebuah kalimat proposisi disebut term. Penalaran dibagi menjadi dua, yaitu:
1.    Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif adalah penalaran dari suatu fakta yang umum ke fakta yang spesifik. Penalaran deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Penarikan secara langsung ditarik dari satu premis. Penalaran deduksi yang berupa penarikan simpulan secara tidak langsung disebut silogisme. Dengan demikian, sebuah silogisme selalu tersusun atas tiga buah proposisi, dua berkedudukan sebagai premis-premis, dan satu berkedudukan sebagai kesimpulan[3].
Silogisme secara umum terbagi dua, yaitu:
a.       Silogisme Kategoris
Silogisme kategoris adalah argumen dirangkai dari 3 proposisi, di mana proposisi pertama disebut premis mayor, yang kedua premis minor, dan terakhir disebut kesimpulan[4].
Aturan umum silogisme kategorial adalah sebagai berikut:
1.    Terdiri atas tiga term, yaitu term mayor, term minor, dan term penengah.
2.    Terdiri atas tiga proposisi, yaitu premis mayor, premis minor, dan simpulan.
3.    Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
4.    Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
5.    Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
6.    Bila salah satu premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
7.    Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik kesimpulan.
b.      Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis adalah silogisme yang premis mayornya berupa keputusan hipotesis dan premis minornya merupakan pernyataan kategoris.
c.       Silogisme Alternatif
Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Kalau premis minornya membenarkan salah satu alternatif, simpulannya akan menolak alternatif yang lain. [5]



2.    Penalaran induktif
Penalaran yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum. Beberapa bentuk penalaran induktif adalah sebagai berikut:
a.       Generalisasi
Generalisasi ialah proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum.
b.      Analogi
Analogi cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
c.       Hubungan Kausal
Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan.[6]

C.    Argumen
Argumen merupakan sekelompok pernyataan yang di dalamnya terdapat satu pernyataan yang dinamakan kesimpulan yang diterima sebagai kesimpulan berdasarkan pernyataan-pernyataan lainnya dari kelompok pernyataan itu yang dinamakan premis atau premis-premis.
Dalam kehidupan sehari-hari, perkataan “argumen”sering digunakan dalam arti premis atau alasan. Orang yang terlibat dalam perdebatan, misalnya dalam suau diskusi atau rapat, pembicara mengajukan pendapat atau pandanga yang dilengkapi dengan alasan-alasan atau pertimbangan-pertimbangan untuk mendukung atau meyakinkan kebenaran dari pendapatnya, dan pendapat juga alasan-alasannya itu akan diungkapkan dalam pernyatan-pernyataan. Alasan itulah yang merupakan bukti-bukti dari kebenaran-kebenaran atau pendapatnya.Pembicaraan yang menampakkan adanya aliran pikiran tertentu ntuk sampai pada pendapat yang diajukan, itulah yang disebut dengan “pembicaraan argumentatif”.[7]

BAB II
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari hasil pengamatan pada tugas ini maka dapat disimpulkan bahwa Logika sangat berperan penting dalam berbagai bidang keilmuan, seperti: pengambilan kesimpulan dalam statistik dan penarikan kesimpulan dalam suatu wacana. Begitu juga dalam kehidupan manusia sehari-hari. Logika sangat berkaitan dengan penalaran. Argumen juga tak kalah penting dengan logika, karena ia mampu berperan sebagai proses pencapaian kesimpulan, karena kesimpulan dari sekelompok pernyataan pada argumen, menghasilkan premis. Sedangkan premis sangat berperan dalam silogisme sebagai jalan menentukan kesimpulan. Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif. Yang mana penalaran deduktif disebut juga dengan silogisme. Sedangkan penalaran induktif yaitu kebalikan dari penalaran deduktif.
B.     Saran
Kita sebagai manusia harus menyadari dan selalu memanfaatkan kinerja otak yang digunakan untuk berfikir mendalam hingga menghasilkan  gagasan-gagasan baru yang mampu mengubah sekitar kita.








Lampiran
ANALISIS TEKS

scan.JPG

Keterangan:
a.    Logika
Semakin anda sering mempraktekkan ‘senyum’ baik kepada pasangan, kawan, kolega, anak atau siapa saja niscaya ia akan menjadi kebiasaan.
Kata sering yang diikuti kata kebiasaan akan memunculkan korelasi antar keduanya. Karena, ketika sesuatu sering dilakukan akan menjadi kebiasaan atau kebiasaan muncul karena sesuatu tersebut sering dilakukan.
b.    Argumen
Menurut Abbas as-Sisi:” Senyum adalah sebuah ungkapan rasa gembira, hasil sebuah reaksi tulus yang ada didalam jiwa, menggerakkan hati lalu memancarkan sinar pada wajah laksana pancaran sinar petir”.
Contoh argumen di atas merupakan sekelompok pernyataan yang mengandung kesimpulan bahwa senyum merupakan ungkapan rasa gembira. 
c.    Penalaran
1.    Deduktif
a.    Secara langsung
Tidak semua agama menjadikan aktivitas senyum sebagai ibadah
Jadi, yang menjadikan aktivitas senyum sebagai ibadah adalah sebagian agama.
Contoh diatas menunjukkan penalaran deduktif secara langsung, karena terdapat satu premis, dan satu kesimpulan.
b.    Tidak langsung (Silogisme)
1)      Silogisme Kategoris
a)    Islam menjadikan aktivitas tersenyum sebagai suatu ibadah
     Semua rakyat Indonesia Islam    
Jadi, semua rakyat Indonesia tersenyum akan dinilai suatu ibadah
b)   Senyum yaitu menggerakkan bibir diiringi tatapan mata berbinar
Fatimah sedang menggerakkan bibir diiringi tatapan mata berbinar
Jadi, Fatimah sedang Senyum
c)    Tersenyum adalah mencoba melepaskan diri dari perasaan sedih dan negatif
Rizka tersenyum
Rizka mencoba melepaskan diri dari perasaan sedih dan negatif
d)   Senyum ialah pancaran sebuah keimanan yang kokoh
Aisyah sedang senyum
Aisyah merupakan orang yang kokoh imannya.
Dari beberapa contoh diatas, menunjukkan penalaran tidak langsung atau yang disebut juga dengan silogisme yang bentuknya kategoris. Pada bab pembahasan diatas, sudah disebutkan aturan dasar silogisme kategoris. Dari keempat contoh diatas, termasuk contoh dari silogisme kategoris.
2)      Silogisme Hipotesis
Jika hati penuh ambisi dan amarah negatif, maka senyumnya tidak menjadi terkesan baik
Ahmad sedang marah
Jadi, Ahmad senyumnya tidak menjadi terkesan baik.
Ciri-ciri Silogisme yaitu ada kata yang dapat mempersatukan proposisi, yaitu kata jika..........,maka.........., ...atau...., ......tidak mungkin sekaligus....... dan.......
 Baris yang pertama menunjukkan perangkat yang mempersatukan dua proposisi, yaitu kata jika........maka.......
3)      Silogisme Alternatif
Senyum itu ungkapan rasa gembira atau sedih
Senyum itu ungkapan rasa gembira
Jadi, senyum ungkapan rasa tidak sedih
Contoh di atas menunjukkan premis minornya membenarkan salah satu alternatif yaitu rasa gembira, maka kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain yaitu rasa tidak sedih.
2.    Induktif
a.       Generalisasi
Jika hati penuh ambisi, maka senyumnya tidak terkesan baik
Jika hati penuh amarah negatif, maka senyumnya tidak terkesan baik
Jika hati penuh kebosanan, maka senyumnya tidak terkesan baik
Jadi, jika hati sedang tidak baik, maka senyumnya tidak terkesan baik
Dari contoh di atas ada kata ambisi, amarah, dan bosan itu semua menunjukkan suasana hati yang tidak baik, jika ia senyum maka senyumnya tidak terkesan baik dan seperti terpaksa.
b.      Hubungan Kausal
Jika senyum, maka menggerakkan bibir.
Ketika kita senyum pasti bibir kita bergerak, dua kata itu menunjukkan saling berhubungan.  



[1] B. Arief Sidharta, Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah, (Bandung: PT Refika Aditama, 2008).
[2] Partap Sing Mehra, Jazir Burhan, Pengantar Logika Tradisional, (Bandung: Binacipta, 1968), 1.
[3] B. Arief Sidharta, Pengantar Logika, 43.
[4] Zainul Maarif, Logika Komunikasi, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2015), 116-117
[5] Salma Sunaiyah, Bahasa Indonesia, (Kediri: STAIN Kediri Press, 2010), 157-158.
[6] Salma, Bahasa Indonesia, 164.
[7] Arief, Sidharta, Pengantar Logika, 7.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar